Judul Buku : Dua Dunia
Pengarang : Nh. Dini
Judul
Cerpen : Dua Dunia
Terbitan : 2002
Jumlah
Halaman : 114
Cetakan : 3
SINOPSIS
CERPEN
Cerpen yang berjudul Dua Dunia ini menceritakan
tentang kehidupan seorang Iswanti, yang mempunyai penyakit tifus dan mempunyai
keluarga yang tidak harmonis. Awal cerita dulunya, sebelum Iswanti kena
penyajit tifus dia merupakan seseorang yang segar dan selalu linca. Tapi
sekarang kesegaran, kesigapan, dan kesanggupannya hilang ditelan oleh kerumunan
kuman yang mengerogoti kesehatannya. Dulu rambut Iswanti tidak jarang seperti
sekrang ini, banyak rambutnya yang hilang bahkan untuk menyisirnya harus secara
berlahan dia berharap supaya tak banyak rambut yang rontok. Iswanti masih ingat
dulu waktu kecil, bagaimana takutnya dia kepada jarum suntik. Dan kini, dia
benar-benar merasakan akibat ketakutannya selama ini. Dia hanya tahu bahwa dia
takut kepada jarum itu dan dia tidak mau orang menusukannya begitu saja. Sampai
pada batas umur yang tak pantas lagi dia selalu ditolong, dia tetap belum bisa
menginsafkan dirinya untuk tidak takut suntik. Sebagain hidupnya sudah lesu,
hidup yang dulu selalu ditimbang dan diidamkan oleh ibunya: jadilah manusia
yang berbekati bagi keluargamu. Tapi kenyataannya sampai kini dia tetap tak
bisa menjadi tokoh yang berarti dalam keluarga.
Iswanti menikah dengan laki-laki
yang dipilihkan oleh orang tuanya yaitu Darwono. Dia berusaha menjadi istri
yang baik sambil menuruti segala perintah ibunya yang sangat terbatas
pandangannya. Ibu Iswanti begitu rakus akan kebutuhan uang, biaya hidup
sederhana kadang-kadang terhanyut kemeja judi yang dimulai kecil-kecilan
lama-kelamaan mencandu dan mendarah daging pada ibunya. Kadang-kadang tengah
hari belum pulang, kadang-kadang petang hari belum pulang. Iswanti yang
mengtahui segala-galanya merasa malu kepada tetangganya dan kawan-kawannya, dan
kepada dirinya sendiri sebagai perempuan yang tahu bagaiman menyelenggarakan
rumah tangga yang baik.
Iswanti mempunyai anak yang mempunyai
tubuh yang begitu mungil, Kanti namanya. Kanti akan diberikan kepada Darwono
bapaknya, tetapi hati Iswanti tidak merelahkan anaknya diasuh oleh ibu tiri Darwono
yang telah menjadi selingkuhan dari Darwono sendiri. Iswanti sendiri sudah demikian
tak tahan hatinya hingga terungkit olehnya kepincangan rumah tangga ayahnya.
Suatu tusukan pula bagi ayahnya sebagai kepala rumah tangga yang tak bisa
menumbuhkan kebahagiaan dalam lingkungannya. Kehidupan Iswanti kini terlilit
juga dengan ekonomi yang tak memadai, bahkan namanya dibuat sebagai mencari
keuntungan. Keuntungan itu cuma dibuang-buang di meja judi. Iswanti teringat
sewaktu masi di jakarta dirumah suaminy, di tempat yang seharusnya diatur
seperti rumah tangga sendiri malah dikuasai oleh ibu tiri Darwono yang genit.
Bahkan lebih kuasa atas diri Darwono yang telah menjadi istri Iswanti.
Sampai akhirnya Iswanti
sudah tak tahan lagi berada di lingkungan yang berisi tantangan dan cemohoan
dan betapa tak akan terbakar dadanya bila dia lihat suaminya berbaring dengan
kepala di atas pangkuan ibu tirinya di dipan ruang belakang. Tadinya Iswanti
menganggap semua itu sesuatu yang baisa saja, tapi lama kelamaan segala tingkah
yang melampaui batas kesopanan antara kedua manusia itu benar-benar mengejutkan
dan mencolok mata Iswanti, istri yang mau setia. Akhirnya Iswanti berkeinginan
untuk menghidupi anaknya sendiri, dia tahu betapa saki hati anaknya terhadap Darwono.
Iswanti juga berkeinginan ingin medidik anaknya dengan baik, dengn curahan
segala rasa kemanusiaan yang wajar. Hendak dia didik supaya jiwa pembedaan
antara dunia laki-laki dan perempuan dipenuhi rasa kasi sesamahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar