Jumat, 25 Mei 2012

Sinopsis Cerpen

Judul Buku                :Antologi Cerpen dan Puisi Daerah
Pengarang                  : Yayasan Obor Indonesia
Judul  Cerpen           : Setiap Kali Kesini... Selalu Berurai Air Mata
Karya                         : Nasrul Sidik
Terbitan                     : 1999
Jumlah Halaman       : 151
Cetakan                      : 1

SINOPSIS CERPEN
Cerita Setiap Kali Kesini Selalu Berurai Air Mata ini menceritakan kehidupan dua orang pahlawan yang sudah meninggal dan mereka membicarakan tentang kehidupan dan perjuangan mereka pada masa dahulu.
Awal cerita, ketika itu hujan gerimis, sedangkan hari telah pukul 2 tengah malam. Pintu-pintu rumah telah lama ditutup, hening, sungguh-sungguh sunyi. Cuma sesekali terdengar anjing melolong ditunggangi setan. Pukul dua tengah malam di atas kuburan Taman Makam Pahlawan. Cahaya agak remang-remang. Terdengar orang batuk-batuk dari arah pusara. Kemudian terlihat orang itu keluar dari kuburan, yaitu Radjab namanya. Dia melihat kiri kanan. Lalu diambilanya sebuah batu, dibela dan diketok-ketoknya kekuburan yang terbelintang disampingnya.
Kemudian orang tersebut memanggil dan membangunkan Pono yang ada dalam pusra tersebut untuk diajak berbincang. Tetapi ponon tidak menjawab. Tak lama kemudian keluarlah Pono yang keningnya bolong dan tangannya tinggal sebelah dan dia duduk dengan selesa di atas pusarnya. Kemudian kedua orang tersebut berbincang-bincang. Mereka menceritakan bahwa orang di dunia semakin sering menyebut nama mereka. Terutama pada tanggal 10 November, yang merupakan hari Pahlawan. Mereka beranggapan bahwa mereka dipuji-puji dengan kata-kata dn pidato sekurang-kurangnya sekali setahun.
Si Pono dan Radjab mengingatkan ketika peristiwa hari pahlawan tahun yang lewat, di mana mereka duduk berjuntai beramai-ramai sepanjang pagar, mereka memperhatikan tingkah-laku yang hidup itu. Ada yang menangis, ada yang tertawa.
Tetapi belum semua orang di dunia yang bahagia, di Jakarta banyak orang tidur di bawah jembatan, tetapi banyak pula yang mempunyai sedan dan berumah bagus. Ada yang meminta-minta hanya untuk mendapatkan makanan, tetapi ada pula yang bergelimang makanan dan berlimpah ruah. Sampai-sampai banyak yang terbuang mubazir. Bagaimana lagi yang tidur di kaki lima, tidurlah. Yang dibawah jembatan, kedinginanlah. Yang menangis, terus menangislah, yang tertawa terus juga tertaw. Yang lapar terserah merekah, yang kenyang bertambah kenyang.
Bapak dan ibu kandung mereka. Adik-adik serta saudara yang ditinggalkan. Yang hampir tiap bulan datang menjenguk mereka di sana, banyak yang melarat. Mereka memakai baju compang-camping. tbanyak yang terbuang mubazir. Bagaimana lagi yang tidur di kaki lima, tidurlah. Yang dibawah jembatan, kedinginanlah. Yang menangis, terus menangislah, yang tertawa terus juga tertaw. Yang lapar terserah merekah, yang kenyang bertambah kenyang.
Bapak dan ibu kandung mereka. Adik-adik serta saudara yang ditinggalkan. Yang hampir tiap bulan datang menjenguk mereka di sana, banyak yang melarat. Mereka memakai baju compang-camping. Tiap kali kesini, selalu berurai air mata. Dan sayup-sayup di malam yang bertambah larut. Kemudian keduanya kembali masuk ke tempat mereka masing-masing. Matahari hampir terbit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar